29/04/12

MAKALAH NASAKH DAN MANSUKH


BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar belakang
Usul fiqih terdiri dari dua kata yaitu usul ( fondasi ) dan fiqih ( landasan atau pemahaman secara mendalam yang membutuhkan oergerakan potensi akal ).
Pada abad ke-8Hijriyah muncul Imam Abu Ishaq Al-syatibi dengan bukunya Al-mufaqat fiAl-usul Al syari’ah yang menguraikanberbagai kaidah yang berkaitan dengan aspek-aspek kebahasan, ia juga maqasid al-syari’ah (tujuan-tujun syara’ dalam menetapkan hukum )yang selama ini kurang diperhataikan oleh ulama-ulama usul fiqih.dengan demikian Al-syiyibi member warna baru dibidang usul fiqih yang oleh para ahli usul fiqih kontemporer dianggap sebagai buku usul fiqih yang konterporer dan akomodatif untuk zaman sekarang.
Sebagai orang islam kita wajib mengetahui hukum-hukum islam yang ada guna membimbing dalam proses berlakunya hukum-hukum terdahulu yang sama materinya,sehingga kita bisa tau mana hukun yang benar dan mana hukum tidak benar.
B.     Tujuan
1. Mengetahui tata-cara mempelajari usul fiqih
2. Lebih memahami proses-proses hukum dalam ilmu usul fiqih
3. Berfikir kritis dalam mempelajari ilmu usul fiqih






BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian Nasakh
Nasakh menurut istilah adalah :
Artinya : Membatalkan suatu hukum dengan dalil yang datang kemudian Maksudnya adalah hukum yang dihapus itu atas kehendak ALLAH dan penghapusannya sesuai dengan habisnya masa berlaku hukum tersebut.
Menurut ulama usul fiqih mengemukakan masalah yang dianggap benar apabila
a)      Pembatalan itu dilakukan melalui tuntunan syara’ yang mengandung hukum  syara’ ALLAH dan Rosulullah.
b)      Yang dibatalkan adalah hukum syarak yang disebut mansukh.
c)      Hukum syara’ yang dibatalkan itu lebih dahulu datangnya dari hukum yang membatalkan.

B.     Rukun Nasakh
Rukunnya ada empat yaitu:
1. Adal al-nasakh yaitu pernyataan yang menunjukkan pembatalan hukum yang telah ada.
2. Nasikh yaitu ALLAH ta’ala, Dialah yang membuat hukum dan Dia pula yang membatalkan.
3. Mansukh yaitu hukum yang dibatalkan.
4. Mansukh a’nhu yaitu orang yang dibebani hukuman.

C. Hikmah Nasakh
dapatlah kita pahami bahwa kajian Nasakh  memiliki hikmah yang teramat penting. Adapun hikmah tersebut dapat kita petakan menjadi 2 macam yaitu hikmah secara umum dan hikmah secara khusus yang merujuk pada jenis penggati hukumnya. Hikmah-hikmah tersebut adalah :
a. Secara umum hikmah Al-Nasakh Wa al-Mansukh adalah :
1. Membuktikan Bahwa Syariat Agama Islam adalah Syari’at yang sempurna.
2. Memelihara kepentingan hamba.
3. Cobaan bagi mukalaf untuk mengikuti ataupun tidak mengikuti.
4. Sebagai bukti relevansi hukum syara’ di setiap kondisi umat manusia.
5. Kemudahan dan kebaikan bagi umat.
b. Secara khusus hikmah Al-Nasakh Wa al-Mansukh di lihat dari segi penggantinya adalah:
1. Nasakh tanpa pengganti memiliki hikmah untuk menjaga kemaslahatan manusia. Sebagaimana yang terdapat dalam penghapusan bersedekah ketika menghadap Rasul.
2.  Nasakh dengan badal seimbang, hikmahnya adalah menentukan hukum baru sebagaimana yang terdapat dalam perintah untuk menghadap Baitul Maqdis yang di Nasakh menghadap Ka’bah.
3. Nasakh dengan Badal Astqal hikmanya adalah untuk menambah kebaikan dan pahala umat.
4. Nasakh dengan badal lebih ringan hikmanya adalah sebagai bentuk dispensasi bagi umat

D. Perbedaan Nasakh Dengan Takhsis
Secara etimologi Nasakh dapat diartikan menghapus, menghilangkan, yang memindahkan, menyalin, mengubah dan menggganti. Sejalan dengan pengertian tersebut Ahmad Syadali mengartikan Nasakh dengan 2 macam yaitu : pertama الازلة:yang berarti hilangkan, hapuskan, Sedangkan Takhshish ialah mengeluarkan sebagian dari pada satuan-satuan yang masuk di dalam lafadh Aam dan lafadh aam itu hanya berlaku bagi satuan-satuan yang masih ada. (yang tidak dikeluarkan dari ketentuan lafadh/dalil aam) sesudah di takhsis Ketika membicarakan lafadz ‘am dan lafadh khas, tidak bisa terlepas dari takhshish. Menurut Khudari Bik dalam bukunya Ushul al-Fiqh, takhshish adalah penjelasan sebagian lafadz ‘am bukan seluruhnya. Atau dengan kata lain, menjelaskan sebagian dari satuan-satuan yang dicakup oleh lafadz ‘am dengan dalil.
E. Pendapat Para Ulama Para Ulama Tentang Nasakh
1  نسخ القرآن بالقرآن . (Nasakh ayat al-Quran dengan ayat al-Quran).
Para ulama bersepakat bahwa sebuah ayat bisa saja dinasakh (mansûkh) oleh ayat yang lain dan itu terjadi dalam al-Quran. Contohnya, ayat tentang iddah wanita yang ditinggal mati suaminya selama setahun dinasakh oleh ayat yang menjelaskan bahwa iddahnya selama empat bulan sepuluh hari.
نسخ القرآن بالسنة .2 (Nasakh ayat al-Quran dengan as-Sunnah).
Nasakh ini diperselisihkan oleh para ulama. Imam Syafi'i serta sebagian fuqaha Hanbali berpendapat bahwa as-Sunnah tidak dapat menasakh al-Quran, baik yang mutawâtir maupun yang âhâd. Alasannya, 1kedudukan as-Sunnah secara hierarki berada di bawah al-Quran, sehingga jika al-Quran ingin dinasakh maka diperlukan nâsikh yang sederajat, dan inilah yang dimaksud oleh al-Quran sendiri dalam ayatnya:
"...نأت بخير منها أو مثلها..."
(...Kami datangkan yang lebih baik darinya atau yang sama dengannya...".). Sementara As-Sunnah tidak menyamai al-Quran apatah lagi melebihinya. Juga, oleh karena As-Sunnah berfungsi sebagai bayân (penjelas) terhadap al-Quran dan bukan malah menghapus atau membatalkan (nasakh) ayat-ayatnya.
نسخ السنة يالقرآن .3  as-Sunnah dengan al-Quran)
ini diperselisihkan pula oleh para ulama. Jumhur ulama dari kalangan fuqaha dan teolog berpendapat, nasakh semacam ini benar-benar terjadi. Contoh: kiblat yang tadinya mengarah ke Bait Muqaddas ditetapkan dengan as-Sunnah kemudian dinasakh mengarah ke Bait al-Quran. Juga puasa asyura yang semula wajib berdasarkan as-Sunnah dinasakh oleh kewajiban puasa Ramadhan yang ditetapkan melalui ayat al-Quran. 
ImamSyafi'i dalam salah satu dari dua riwayat dari Beliau- serta sejumlah sahabat Beliau menolak pula nasakh ini. Beliau beralasan bahwa antara al-Quran dan as-Sunnah, sejatinya, saling mendukung. Keserasian dan kesecocokan antara keduanya merupakan keniscayaan. as-Sunnah, sekali lagi, adalah bayân sehingga tidak logis kiranya jika ia dihapus atau dibatalkan oleh al-Quran. Pun, akan menyebabkan kepercayaan orang terhadap as-Sunnah akan goyah, yang pada gilirannya menafikan upaya-upaya ketaatan kepada diri Rasulullah saw yang nota-bene merupakan perintah Allah swt.

4.  نسخ السنة بالسنة(Nasakh as-Sunnah dengan as-Sunnah)
Jenis ini dirinci menjadi empat bagian: [1] nasakh As-Sunah yang mutawâtir dengan yang mutawâtir, [2] nasakh As-Sunnah yang âhâd dengan yang mutawâtir, [3] nasakh as-Sunnah yang âhâd dengan yang âhâd dan [4] nasakh As-Sunnah yang mutawâtir dengan yang âhâd. Ketiga pertama diatas diamini oleh jumhur ulama sedang yang keempat dipermasalahkan oleh mereka. Lagi-lagi alasannya karena As-Sunnah yang mutawâtir itu qath'iy al-tsubût sehingga kedudukannya lebih kuat dibanding as-Sunnah yang âhâd yang zhanniy al-tsubût. Dan pembatalan terhadap yang kuat tak mungkin dilakukan kecuali oleh yang kuat pula.
Sekali lagi, mazhab Zhahiri membolehkan nasakh As-Sunnah yang mutawâtir dengan yang âhâd, apatah lagi jika as-Sunnah yang âhâd itu terbukti memberikan keyakinan yang qath'i (qath'iy al-dalâlah).

F. Syarar-Syarat Nasakh
- Yang disepakati
1. Nasikh harus terpisah dari mansukh.
2. Nasikh harus lebih kuat atau sama kuatnya dengan mansukh.
3. Nasikh harus dalil-dalil syara’
4. Mansukh tidak dibatasi pada suatu-waktu
5. Mansukh harus hukum-hukum syara’.
- Yang belum disepakati
1. Nasikh da mansukh tidak satu jenis.
2. Ada hukum yang baru sebagai pengganti yang dinasakhkan.
3. Hukum pengganti lebih berat daripada yang dinasakhkan.

G.       Macam-Macam  Nasakh
1.      Nasakh yang tidak ada gantinyaContoh : Pemberian shodaqoh kepada seseorang yang hendak bertemu dengan Rosulullah SAW.
2.      Nasakh yang tidak ada gantinya
Contoh : sholat lima puluh kali menjadi lima kali
3.      Nasakh kaum ayat, sedangkan bacaanya masih berlaku
4.      Contoh : hukuman rajam bagi orang laki-laki dan perempuan yang melakukan zina.
5.      Nasakh syarih adalah berakhirnya hukum yang dinasakhkan.
Contoh : Hadits tentang ziarah kubur.
6.      Nasakh zimmi adalah nasakh antara dua nash yang berlawanan.
Contoh : ayat wasiat kepada ahli waris dinasakhkan oleh ayat mewaris.
Nasakh zimmi dibagi lagi menjadi :
1.         Nasakh terhadap segala hukum yang dianggap nash terdahulu.
Contoh :
Artinya : ”Dan orang-orang yang akan meninggal dunia diantaramu dan meninggalkan istri, hendaknya berwasiat untuk istri-istrinya diberi nafkah setahun lamanya dengan tinggal di rumahnya, akan tetapi jika mereka pindah sendiri tidak ada dosa baginya.
Dinasakhkan oleh ayat
Artinya : ”Dan orang-orangynag meninggal diantara kamu dengan meninggalkan istri-istri hendaknya para hendaknya para istri-istri itu beribadah beribadah empat bulan sepuluh hari.
Menurut M. Abu zuhru kedua ayat tersebut dikhususkan untuk janda yang ditinggal mati oleh suaminya.
2.         Nash juz’I yaitu mengeluarkan hukum dari nash terdahulu.
Contoh : ayat qadzaf dengan ayat li’an





H.    Cara Mengetahui Nasikh Dan Mansukh
Diperlukan penelitian dan kehati-hatian seorang mujtahid, sehingga tahu mana nash yang dating lebih dahulu dan mana yang datang kemudian. Nash yang dulu disebut MANSUKH dan yang datang kemudian disebut NASIKH.
Urutan datangnya nash dapat diketahui melalui
1. Penjelasan langsung dari Rosulullah Saw,jika ayat itu mansukh dan ayat ini nasikh
2. Dalam salah satu nash yang bertentangan ada petunjuk mengatakan salah satu nash lebih dahulu datangnya dari yang lainnya.
Misal : sabda Rosulullah tentang hukum menziarah kubur
   Artinya : Dahulu saya melarang kamu menzirah kubur, tetapi kini tidak
3. Periwayat hadits secara jelas menunjukkan bahwa salah satu hadits yang bertentangan itu lebih dahulu datangnya dari hadits yang lain.






BAB III
PENUTUP

A.    KESIMPULAN
1.      Nasakh adalah penghapusan hukum dengan dalil-dalil yang datang kemudian
2.      Pembagian nasakh ada 5 yaitu :
a. Nasakh syarih : berakhirnya hukum yang disesuaikan
b. Nasakh zimmi : adanya dua hukum nash yang berlawanan
c. Nasakh yang tidak digantikan
d. Nasakh yang digantikan
e. Nasakh hukum ayat ( teks )
3.      Rukun nasakh ada 4 yaitu :
a. Adal al – nasakh : pernyataan yang menunjukkan pembatalan hukum yang telah ada.
b. Nasikh : ALLAH ta’ala.
c. Mansukh : hukum yang dibatalkan
d. Mansukh anhu: orang yang dibebani hukuman
4.      Syarat-syarat nasakh
-  Yang disetujui
a. Nasakh harus terpisah dari mansukh
b. Nasikh harus lebih kuat atau sama kuatnya dengan mansukh
c. Nasikh harus dalil-dalil syar’i
d. Mansukh harus hukum-hukum syara’
- Yang tidak disetujui
   a. Nasikh dan mansukh tidak satu jenis
   b. Ada hukum baru sebagai pengganti yang dinasakhkan
   c. Hukum pengganti lebih berat daripada yang dinasakhkan

B.     Saran
       Kami sadar bahwa dalam penulisan makalah ini terdapat banyak kekurangan, Untuk itu, saran dan kritik yang bersifat membangun sangat kami harapkan demi kesempurnaan makalah ini. Semoga makalah kami dapat bermanfaat bagi semua pihak.

Reaksi:

0 komentar:

Poskan Komentar